Jumat, 31 Oktober 2008

Bercerminlah

Indonesia. Serba hebat. Semua bisa dilakukan di Negara ini. Rakyatnyapun sangat beraneka ragam dengan multi talenta. Bagaimana tidak? Satu orang bisa memiliki lebih dari satu talenta. bahkan tidak banyak dualisme talenta tersebut saling bertolak belakang dan dapat menimbulkan konflik kepentingan antar satu dengan lainnya. Kondisi ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri jika saja manusianya dapat menempatkan diri diatas kebenaran. Tapi jika tidak malapetaka adalah hasilnya.

Dinamika politik indonesia syarat dengan keanekaragaman. Kebanyakan dari mereka terkena dampak uporia politik yang menggebu. Atas nama demokrasi mereka tampil di gelanggang politik dalam negeri. Atas nama keterwakilan sekelompok orang mereka merasa harus maju pada pentas adu nasib yang bernama "pemilu". Beberapa dari mereka mungkin memiliki kepentingan yang luhur dan ingin berbuat sesuatu untuk Negaranya melalui media politik. Tapi tidak sedikit dari mereka yang mencoba mengadu peruntungan, mempertaruhkan segala yang dimilikinya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi.

Masih segar di ingatan kita ketika beberapa waktu lalu ada seorang calon bupati yang mendadak Stress karena kalah dalam pilkada. Konon kabarnya dia telah mempertaruhkan segalanya demi sesuatu yang akhirnya tidak dia raih. Tragis sekali. Tetapi lebih tragis lagi jika dia terpilih sebagai pemenang. Bayangkan, pastilah ia menginginkan pertaruhannya kembali. Bahkan kalau bisa lebih banyak lagi. Hasilnya Negara menjadi sapi perahnya.

Terlihat sudah motif sesungguhnya. Sudah menjadi rahasia umum memang. Tetapi rakyat tidak dapat berbuat banyak. Ketika mereka, para calon peserta pemilu berteriak mengumbar janji yang pasti tidak akan mereka tepati. Ketika mereka berbondong-bondong dengan segala daya dan upaya mengelabui rakyat yang tidak mengetahui dengan iming-iming kemakmuran, keadilan, kerakyatan, dan "ke" lainnya yang sangat manis di telinga.

Ada juga dari mereka, yang datang dengan modal ketenaran. Artis sinetron, penyanyi dangdut, atau lainnya ikut masuk dalam percaturan politik Indonesia. Oh negriku. Betapa malang nasibmu. Berapa banyak dari mereka yang mengerti konsep ketatanegaraan? Berapa banyak dari mereka yang mengerti mengenai instrumen-instrumen politik? Berapa banyak dari mereka yang tau sejarah Bangsanya? Berapa banyak dari mereka yang tau asal-muasal peta dunia? Konsep ekonomi? atau banyak lagi yang diperlukan oleh seorang negarawan. Marilah tanya pada diri kita. Mampukah kita? Jangan lupa. Bubuhi sedikit jawaban dari pertanyaan tersebut dengan "rasa malu". Niscaya kita bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan benar.

Mari kita kutip sebait kalimat Tuhan yang berbunyi : "Jika suatu pekerjaan dikerjakan bukan oleh ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya" Mungkin itu lah yang terjadi di Negeri tercinta ini. Bercerminlah!! Apakah kita seorang yang ahli? Jika tidak. Jangan hancurkan Negeri ini.

Mohammad Agus 31/10/08

Tidak ada komentar: