Kamis, 23 Oktober 2008

Masa kecilku

Nafasku yang pertama terhembus pada sebuah distrik kecil di pelosok pulau sumatra duapuluh enam tahun silam. Musirawas Lubuk linggau. Sebuah kota yang jauh dari hingar bingar kehidupan. Dimana keramaian hanya terdapat pada pasar tradisional dipagi hari. Saat itu pukul 20:00 WIB, ketika angin bertiup kencang seraya menyambut tubuh mungilku datang didunia.

Masa kecilku kuhabiskan untuk bermain dihutan dan sungai yang besar. Aku membuat mainan ku dari pelepah batang pisang, ranting pohon, dan lainnya yang ku ambil dari rimba musi rawas. Ya, aku cukup mengingatnya, ketika aku bermain di hutan bersama rekan kecil ku.

Kami adalah keluarga yang berkecukupan. Pada saat itu kakek adalah salah seorang tokoh masyarakat di Musirawas. Beliau merupakan salah seorang sesepuh yang ikut mendirikan kota itu. Cukup lama aku menghabiskan masa kecilku disana. hampir tiga tahun lamanya.

Demikian kehidupanku berjalan. Karena sebuah masalah keluarga kami pun bermigrasi ke ibu kota. Jakarta. Sapa suru datang jakarta? Kota yang keras, dan menggilas orang berwajah melas. Episode keprihatinan tahap awalpun dimulai. Aku dan orang tua saya tinggal dipermukiman kumuh di daerah penggilingan pulo gadung. Aku masih mengingatnya. Sebuah rumah petak beralaskan tanah. Didalam rumah itu hanya terdapat dua dipan mungil. Dengan tembok bata setinggi setengah meter dan selebihnya terbuat dari bilik anyaman bambu. Ditempat itulah kami tinggal. Ayahku pada saat itu adalah seorang buruh pabrik dengan penghasilan pas-pasan, bahkan kurang. Untuk makan sehari-hari terkadang kami kesulitan. Masih terngiang dikepalaku ketika perutku lelaparan menanti ayah pulang. Pada saat itu, ibuku mencarikan aku pepaya muda yang dimintanya dari tetangga. Lalu buah itupun disayur seadanya untuk kami makan. Benar-benar masa yang nyata dan terpatri jelas dalam sejarah kehidupanku.

Roda kehidupan memang berputar, kadang dibawah kadang diatas. Entah bagaimana keberuntungan hinggap dipundak ayahku, sehingga ayah bisa membawa kami pindah kelingkungan yang lebih baik. Lebih layak setidaknya. Kota bekasi, disinilah aku tumbuh menjadi remaja yang sederhana.

Waktupun tak terasa berlalu, setelah aku dewasa aku terlibat dalam berbagai nostagi cinta. Cinta dengan romansa bernuansa melankolis, seperti kisah cinta adam dan hawa. Disinilah aku mulai tumbuh dewasa. Negeri indonesia nan elok dipandang mata.

Tidak ada komentar: