Tembalang, dataran tinggi kota Semarang yang tak akan pernah hilang dari ingatanku. kota ini adalah rumah ke dua bagiku. Saat datang ke Semarang seakan membuat aku merasa pulang ke kampung halamanku. Aku sangat akrab dengan kota ini. Dengan kulturnya yang tidak terlalu menjunjung tinggi adat Jawa, makanan yang enak lagi murah, dengan cita rasa umum dan disukai banyak orang. Kota yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai. Aku sangat mencintai kota ini. Akupun menjadi penghuni kota ini selama empat tahun lebih.
"Cah TI".. itulah panggilan kami. Kultur kampus kami adalah kekeluargaan. Tidak ada kesenjangan yang kurasakan antara mahasiswa satu dengan yang lain. Tidak ada juga gap yang kulihat antara mahasiswa dengan dosen. Kami adalah satu keluarga yang senantiasa saling mendukung antara satu dengan lainnya. Sahabat-sahabat sejati aku temukan di kampus ini. "Rasamala Team" itulah julukan kami. Hamung, Indra, Baba, Jaja, Acong, Ketek, Bancet, Fadly, Irvan, Koplo, Didit, Bowie, Gogen, Ringga dan teman teman lainya. Mereka sahabat yang sangat baik. Aku banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Menjalani hidup yang penuh canda. Tidak ada rasa marah, iri, atau apapun. Kami saling berbagi satu dengan lainnya. Bahkan makan dan tidur bersama-sama.
Di kampus, aku memiliki teman yang sangat beraneka ragam. Aku selalu teringat ketika kami bercanda gurau di "cafe dahlia" yang biasa kami sebut "KADAL" sambil menghisap rokok dan bermain Truff. Es Milo dan nasi gado-gado adalah menu andalan yang aku pesan hampir setiap hari. Walaupun pelayanan dari ibu "KADAL" sangat tidak memuaskan (Lama Banget), tapi kami tetap senang berkunjung kesana.
Awal dari kehidupanku di semarang berjalan dengan lancar. Wesel dari rumah tidak pernah tersendat sampai aku semester lima. Tetapi setelah itu, keluargaku kembali tertimpa kesulitan ekonomi. Perusahaan ayahku bangkrut, kami pun harus menjalani keprihatinan tahap kedua. Sulitnya menjadi mahasiswa tanpa uang saku. Aku sangat merasakannya. Namun aku tidak menyerah begitusaja. Berbagai cara ku tempuh. Asalkan halal dan menghasilkan uang. Dengan keahlian menggambar teknik, saat itu aku belajar untuk mencari rupiah dari mahasiswa/i yang malas mengerjakan tugas dan rela membayar agar tugasnya tetap selesai dengan rapih. Tariff ku pun cukup mahal. Rp75.000,- untuk satu gambar. Bisnis ini pun berjalan baik. Cukup lumayan untuk menyambung nyawa selama aku kuliah. Selain itu pengahasilan juga kudapat dengan membantu dosenku untuk mengajar. Walaupun tidak banyak, tapi sangat berarti bagiku.
Dengan uang pas-pasan aku terpaksa mengatur pengeluaranku. Untuk mensiasatinya, aku menukarkan uang pecahan Rp10.000,- dan kusimpan di bawah baju lemariku. Setiap hari, kuambil satu lembar. Tidak boleh lebih. Aku harus mengelola hawa nafsuku untuk makan agar pengeluaranku tidak banyak.
Tak lama kemudian akupun lulus kuliah. Akupun meninggalkan kota semarang untuk kembali ke Jakarta dan mencari pekerjaan. Dengan modal predikat "Sarjana" aku melamar ke berbagai perusahaan di Jakarta.
"Cah TI".. itulah panggilan kami. Kultur kampus kami adalah kekeluargaan. Tidak ada kesenjangan yang kurasakan antara mahasiswa satu dengan yang lain. Tidak ada juga gap yang kulihat antara mahasiswa dengan dosen. Kami adalah satu keluarga yang senantiasa saling mendukung antara satu dengan lainnya. Sahabat-sahabat sejati aku temukan di kampus ini. "Rasamala Team" itulah julukan kami. Hamung, Indra, Baba, Jaja, Acong, Ketek, Bancet, Fadly, Irvan, Koplo, Didit, Bowie, Gogen, Ringga dan teman teman lainya. Mereka sahabat yang sangat baik. Aku banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Menjalani hidup yang penuh canda. Tidak ada rasa marah, iri, atau apapun. Kami saling berbagi satu dengan lainnya. Bahkan makan dan tidur bersama-sama.
Di kampus, aku memiliki teman yang sangat beraneka ragam. Aku selalu teringat ketika kami bercanda gurau di "cafe dahlia" yang biasa kami sebut "KADAL" sambil menghisap rokok dan bermain Truff. Es Milo dan nasi gado-gado adalah menu andalan yang aku pesan hampir setiap hari. Walaupun pelayanan dari ibu "KADAL" sangat tidak memuaskan (Lama Banget), tapi kami tetap senang berkunjung kesana.
Awal dari kehidupanku di semarang berjalan dengan lancar. Wesel dari rumah tidak pernah tersendat sampai aku semester lima. Tetapi setelah itu, keluargaku kembali tertimpa kesulitan ekonomi. Perusahaan ayahku bangkrut, kami pun harus menjalani keprihatinan tahap kedua. Sulitnya menjadi mahasiswa tanpa uang saku. Aku sangat merasakannya. Namun aku tidak menyerah begitusaja. Berbagai cara ku tempuh. Asalkan halal dan menghasilkan uang. Dengan keahlian menggambar teknik, saat itu aku belajar untuk mencari rupiah dari mahasiswa/i yang malas mengerjakan tugas dan rela membayar agar tugasnya tetap selesai dengan rapih. Tariff ku pun cukup mahal. Rp75.000,- untuk satu gambar. Bisnis ini pun berjalan baik. Cukup lumayan untuk menyambung nyawa selama aku kuliah. Selain itu pengahasilan juga kudapat dengan membantu dosenku untuk mengajar. Walaupun tidak banyak, tapi sangat berarti bagiku.
Dengan uang pas-pasan aku terpaksa mengatur pengeluaranku. Untuk mensiasatinya, aku menukarkan uang pecahan Rp10.000,- dan kusimpan di bawah baju lemariku. Setiap hari, kuambil satu lembar. Tidak boleh lebih. Aku harus mengelola hawa nafsuku untuk makan agar pengeluaranku tidak banyak.
Tak lama kemudian akupun lulus kuliah. Akupun meninggalkan kota semarang untuk kembali ke Jakarta dan mencari pekerjaan. Dengan modal predikat "Sarjana" aku melamar ke berbagai perusahaan di Jakarta.
1 komentar:
kisah kolor ijo kenapa ga diceritain cun? mobil ancur tabrakan.. kisah cinta kita (loh).. terlalu banyak yang di skip nih.. hehe..
salam blog deh..
Posting Komentar