Semua berawal secara tidak sengaja. Hari itu, karena sesuatu hal, aku pergi ke sebuah pusat pertokoan di kawasan senayan Jakarta. Aku pergi bersama teman sekantorku dan makan disebuah food court mall. Aku makan seperti biasa, begitupula temanku, dia sangat lahap memakan makanan yang dibelinya. Tak lama kemudian, datang dua orang wanita. Mereka langsung menghampiri kami. Ternayata mereka berdua adalah sahabat dari teman kantorku.Selayaknya orang yang baru bertemu kami pun saling berkenalan. Salah satu dari gadis itu bernama Cipta. Gayanya sangat metropolis, dengan jaket hijaunya, dia berjalan dengan penuh percaya diri. Perawakannya sangat menarik. Aku memperhatikan tubuh moleknya sejak pertama kali bertemu. Namun wanita seperti ini tampak tidak biasa dimataku, karena aku tidak pernah menemui wanita seperti ini dalam pergaulanku sebelumnya. Saat itu yang ada dalam benak ku adalah "siapakah gadis ini? mengapa gayanya begitu aneh?" Hal itu terucap dalam hatiku.
Aku memperhatikannya, dia adalah wanita yang banyak bicara. Tidak terputus jika dia sedang bicara seakan nafasnya tidak pernah habis. Ya. Karena waktu itu aku duduk disampingnya aku begitu mengingatnya. Semua tampak biasa, tidak ada setan yang menggelitik hatiku agar berfikir jauh untuk mengganggunya, terlebih lagi untuk memacarinya.
Obrolan pun berlanjut. Aku lupa topik apa yang mereka bicarakan waktu itu. Semua mengalir seperti air. Sambil makan, aku mendengarkan ocehan mereka tentang banyak hal. Aku hanya diam dan bicara seperlunya. Sedangkan mereka berbicara dengan penuh semangat. Sampai-sampai aku pusing dibuatnya, karena waktu itu aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Seusai makan, kami beranjak pulang. Aku mengantar teman kantorku kerumahnya dengan mobilku. Cipta duduk disampingku, karena pada waktu itu dia ingin menyambung acaranya dengan rekannya yang lain.
Karena permintaannya. Aku menurunkanya di perempatan tugu Pancoran. Saat inilah kejadian aneh berlangsung. Sebelum turun, ia menyodorkan pipinya untuk cipika cipiki dan menanti aku untuk menciumnya. Sedangkan aku hanya terdiam, menatapnya dengan perasaan aneh dan tidak mengerti apa maksudnya. Tersenyum kecut. Hanya itu yang dapat kulakukan, karena aku bingung, apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Setelah lama menanti dan aku tidak kunjung ada realsi dari ku, Ia pun tersentak sadar. Dengan wajah yang merah padam, ia keluar dari mobilku membawa sejuta perasaan kesal. Aku sangat mengerti betapa galau perasaanya saat itu. Dia sangat malu, bahkan sangat malu sekali. Setelah ia turun, aku kembali melanjutkan perjalananku menuju rumah. Aku hanya tertawa seakan ada sesuatu yang menarik bibirku.
Keesokan harinya aku beraktifitas seperti biasa. Teman kantorku bercerita bahwa semalam Cipta meneleponya dan menceritakan apa yang terjadi. Ia mengungkapkan semua kekesalannya. Aku hanya menanggapinya secara wajar dan tertawa ringan, karena kejadian itu sangat lucu untuk ku.
Haripun berganti. Karena sesuatu hal, ada momen yang membuatku kembali bertemu dengan Cipta. Saat itu acara arisan bersama teman-temannya. Disinilah aku mulai memperhatikannya. Semakin lama aku menatapnya semakin cantik Ia. Aku sangat suka dengan tubuhnya yang molek yang dihiasi oleh pinggul dan betis yang indah. Jari tanganya sangat mengusik otaku untuk menggenggamnya. Inilah pertama kali dalam hidupku aku melihat jari seindah miliknya. Dia dibalut kulit yang bersih dan sangat bernuansa Indonesia. Rambutnya panjang terurai ikal menawan. Tanpa kusadari akupun melihatnya dengan konsentrasi penuh. Saat itu, timbul bisikan dalam hatiku. Entah siapa yang membisikannya. Setan, atau Malaikat. Aku tidak tau. Yang jelas saat itu ada niat dari diriku untuk ingin mengenalnya lebih jauh.
Kami larut dalam obrolan sampai jam sembilan malam. Aku berniat mengantar Cipta pulang, maka kutawarkan diriku untuk mengantarnya. "Pucuk di Cita Ulam Tiba" Ia tidak menolak tawaranku sama sekali. Hatiku diliputi rasa girang bukan main. Karena rencana awalku berjalan dengan mulus. Langkah selanjutnya adalah membawanya mampir ketempat lain dimana kami bisa mengobrol lebih jauh.
Mataku pun melirik ke kiri dan ke kanan sepanjang jalan untuk mencari tempat ngobrol yang cukup enak. Ya, usahaku tidak sia-sia. Disebelah kiri jalan terdapat tukang sate yang masih buka. Dengan dalih "Aku kepingin sate kambing" aku mengajaknya turun sejenak menemaniku makan. Padahal saat itu perutku masih terasa kenyang karena makanan yang ku lahap pada acara arisan dua jam sebelumnya belum tercerna habis dalam perutku.
Rencana tahap ke dua berjalan dengan sangat mulus. Bagai mana tidak, dia bersedia menemaniku makan dengan sangat ikhlas. Disinilah otak ku berputar. Dengan segala daya dan upaya aku berusaha tampak Dewasa menanggapi curhatannya tentang cintanya yang kandas ditengah jalan. Jurus nasihat racikan ala priyai harus ku sajikan sedemikian rupa agar Ia meresapinya. Aku berusaha untuk simpatik dalam menangapi cerita cinta yang kandas ditengah jalan yang di lontarkan oleh nya. Oh Tuhan... Betapa kau lancarkan usaha ku. Aku pun mendapat simpatik dari dirinya.
Setelah mengantarnya, akupun pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Betapa tidak, aku melihat rona wajahnya yang sangat meresapi nasihat-nasihat bijak dari diriku. Rencana pun tidak berhenti sampai disitu. Sepanjang jalan menuju rumah kimi masih salang berkirim sms. Dia mengajak ku ke rumah singgah. Akupun memenuhi permintaannya. Berbagai macam tanda telah aku lihat. Isyarat alam telah ku telaah dengan rapih. entah mengapa perasaanku begitu kuat sejak saat itu. Ini bukan perasaan yang biasa ku rasakan sebelumnya. Ini beda. Mungkin ia jodohku. Allahualam. Kuserahkan semua kepada yang Kuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar